
”Not everyone can become a great artist. But, great artist can come from anywhere.” Begitulah yg dikatakan Anton Ego, kritikus makanan, pada artikel terakhirnya.
Bagi masyarakat Prancis, masakan merupakan bagian dari karya seni. Karena itu, makan bukan sekedar aktifitas konsumsi untuk menjaga kelangsungan hidup, tapi telah menjadi bentuk apresiasi. Seringkali apa yang dikatakan kritikus adalah segalanya bagi profesi juru masak, sehingga dibutuhkan keseriusan dalam memasak.
***
Ratatouille, adalah sesuatu yg harus ditonton para pecinta kuliner. Film animasi produksi Pixar animation ini tidak sekedar bercerita soal masak-memasak, tapi lebih jauh menyajikan makanan dari berbagai perspektif.
Dari dapur seorang wanita tua, Remy menonton penuh antusias acara tv yg dipandu oleh Chef Gusteau, juru masak terbaik di Paris. Perlakuannya terhadap makanan begitu berbeda dgn keluarga dan teman-temannya. Dia memiliki sense of taste yg tinggi dan paling anti makan makanan sampah. Meski menyimpan passion besar dalam mengolah makanan, memasak bukanlah hal mudah baginya. Bakat dan cita-citanya harus berhadapan dgn kenyataan bahwa dia hanya seekor Tikus.
Tapi Remy tidak menyerah begitu saja. Dia memegang teguh ucapan chef idolanya, ”anyone can cook!”. Nasib menuntun Remy pada restoran milik Gusteau, kemudian di sanalah perjuangan sang Little Chef dimulai. Dibantu Liguini, seorang pegawai baru, ia bekerja keras untuk dapat menyajikan yg terbaik.
Serangkaian kejadian menguji kesungguhan Tikus muda ini. Ia menghadapi dilema saat perspektif sang ayah sebagai tikus dan perpektif manusia, bersinggungan dalam dirinya. Bagi ayahnya, makanan adalah hal primer dalam bertahan hidup. Selain itu Remy dilarang keras berdekatan dgn manusia, karena dianggap berbahaya bagi koloni mereka. Di sisi lain, manusia memandang tikus sebagai hewan kecil menjijikan yg haram berada di dapur bersama makanan, terutama untuk dapur restoran ternama di Paris.
Namun, semua berubah setelah si koki kecil itu menyajikan seporsi Ratatoille kepada kritikus kejam yg paling ditakuti, Anton Ego. Ratatoille sebenarnya adalah makanan para petani miskin, terdiri dari beberapa sayuran musim panas yg ditumis dgn minyak zaitun.
Skenario Ratatouille terbilang cukup cerdas. Film yg menghibur sekaligus membuka pemahaman baru soal kuliner. Di sini juga diselipkan isu gender pada profesi memasak yg dibawa oleh tokoh Colette, satu-satunya koki perempuan dalam dapur Gusteau’s Restaurant. Kemasannya lucu, tapi pesannya dalem.
Secara sinematografi, animasi film ini tidak ada cela. Pengadegan dan ekspresi para tokoh, terutama Remy tergarap sangat baik dalam film. Satu hal yg melar logika yaitu, bagaimana seekor tikus bisa mengendalikan gerak seorang manusia dengan cara menarik-narik rambutnya. Tapi dalam film, apalagi animasi, imajinasi seperti apapun akan sah saja bukan?











