28 Mei, 2009

Ratatouille:Memahami Makanan dari sudut pandang tikus Paris




”Not everyone can become a great artist. But, great artist can come from anywhere.” Begitulah yg dikatakan Anton Ego, kritikus makanan, pada artikel terakhirnya.

Bagi masyarakat Prancis, masakan merupakan bagian dari karya seni. Karena itu, makan bukan sekedar aktifitas konsumsi untuk menjaga kelangsungan hidup, tapi telah menjadi bentuk apresiasi. Seringkali apa yang dikatakan kritikus adalah segalanya bagi profesi juru masak, sehingga dibutuhkan keseriusan dalam memasak.

***
Ratatouille, adalah sesuatu yg harus ditonton para pecinta kuliner. Film animasi produksi Pixar animation ini tidak sekedar bercerita soal masak-memasak, tapi lebih jauh menyajikan makanan dari berbagai perspektif.

Dari dapur seorang wanita tua, Remy menonton penuh antusias acara tv yg dipandu oleh Chef Gusteau, juru masak terbaik di Paris. Perlakuannya terhadap makanan begitu berbeda dgn keluarga dan teman-temannya. Dia memiliki sense of taste yg tinggi dan paling anti makan makanan sampah. Meski menyimpan passion besar dalam mengolah makanan, memasak bukanlah hal mudah baginya. Bakat dan cita-citanya harus berhadapan dgn kenyataan bahwa dia hanya seekor Tikus.

Tapi Remy tidak menyerah begitu saja. Dia memegang teguh ucapan chef idolanya, ”anyone can cook!”. Nasib menuntun Remy pada restoran milik Gusteau, kemudian di sanalah perjuangan sang Little Chef dimulai. Dibantu Liguini, seorang pegawai baru, ia bekerja keras untuk dapat menyajikan yg terbaik.

Serangkaian kejadian menguji kesungguhan Tikus muda ini. Ia menghadapi dilema saat perspektif sang ayah sebagai tikus dan perpektif manusia, bersinggungan dalam dirinya. Bagi ayahnya, makanan adalah hal primer dalam bertahan hidup. Selain itu Remy dilarang keras berdekatan dgn manusia, karena dianggap berbahaya bagi koloni mereka. Di sisi lain, manusia memandang tikus sebagai hewan kecil menjijikan yg haram berada di dapur bersama makanan, terutama untuk dapur restoran ternama di Paris.

Namun, semua berubah setelah si koki kecil itu menyajikan seporsi Ratatoille kepada kritikus kejam yg paling ditakuti, Anton Ego. Ratatoille sebenarnya adalah makanan para petani miskin, terdiri dari beberapa sayuran musim panas yg ditumis dgn minyak zaitun.

Skenario Ratatouille terbilang cukup cerdas. Film yg menghibur sekaligus membuka pemahaman baru soal kuliner. Di sini juga diselipkan isu gender pada profesi memasak yg dibawa oleh tokoh Colette, satu-satunya koki perempuan dalam dapur Gusteau’s Restaurant. Kemasannya lucu, tapi pesannya dalem.

Secara sinematografi, animasi film ini tidak ada cela. Pengadegan dan ekspresi para tokoh, terutama Remy tergarap sangat baik dalam film. Satu hal yg melar logika yaitu, bagaimana seekor tikus bisa mengendalikan gerak seorang manusia dengan cara menarik-narik rambutnya. Tapi dalam film, apalagi animasi, imajinasi seperti apapun akan sah saja bukan?

29 Maret, 2009

Blueberry Pie dan Sang Kunci yang ditinggalkan



Jika berkunjung ke salah satu toko roti yang sering kali memiliki antrean paling panjang di Mall, bisa dipastikan saya selalu pilih roti isi blueberry. Dan biasanya jika beli menjelang malam, bluberry itu sudah habis.

Secara penampilan, roti ini memang tidak ada yang istimewa. Bentuk fisiknya tidak menggoda seperti cheese cake, chicken floss, atau d’diva. Satu yang menarik darinya hanyalah rasa yang jika sudah lumat di mulut. Aroma vanilla milk yang khas akan nge-blend dengan taste buah yang masih kalah populer dengan strawberry ini. Kosa kata saya mungkin terbatas untuk mendeskipsikan betapa roti bluberry ini memiliki rasa yang ngangenin.

***

Tidak seperti blueberry breadtalk, blueberry pie di kedai Jeremy selalu utuh tersisa setiap hari hingga malam tiba dan dia menutup kedai. Namun sang pemilik kedai tetap menyediakan pai bluberry di etalasenya setiap hari, meski dia tahu cheese cake atau apple pie lah yang akan habis dipilih pembeli.

Tidak ada yang salah dengan bluberry pie, hanya saja kebanyakan orang lebih menyukai chesse cake atau chocolate. Dan setiap orang berhak memilih. Itulah penjelasan sang pemilik kedai.

Mungkin Jeremy pun tidak mengerti betul apa alasan dia mempertahankan si bluberry pie. Merasa memiliki kesamaan nasib, atau hanya karena alasan ”siapa tahu suatu hari akan ada yang datang dan menginginkannya”.

***

Film My Blueberry Nights ini diperankan oleh Jude Law (Jeremy) dan Norah Jones (Elizabeth). Film yang di sutradarai oleh Wong Kai Rai ini, mengangkat persoalan yang sangat umum dihadapi setiap orang. Tentang satu masa yang seringkali mengganggu kesadaran, bahkan menyabotase kehidupan kebanyakan orang.

Bercerita tentang seorang perempuan yang berusaha melarikan diri dari masa lalu dengan pergi meninggalkan kota. Di tempat baru, tokoh utama Liz, sengaja membuat dirinya benar-benar sibuk dan tidak sempat mengingat rasa sakitnya. Bekerja sebagai waitress di beberapa tempat, dia bertemu orang-orang dengan berbagai persoalan hidup mereka. Petualangan selama 300 hari menjadi penonton drama kehidupan, memberinya pelajaran bagaimana seharusnya berhadapan dengan ”kehilangan” dan menangani ”masa lalu”.

***

Lizzie datang ke kedai di pinggiran kota New York milik Jeremy untuk mencari tahu keberadaan kekasihnya. Tidak menemukan apa yang dicari, Lizzie menitipkan sebuah kunci pada Jeremy. Keesokannya gadis itu datang kembali sambil bertanya penuh harap apakah kekasihnya datang mengambil kunci dan menanyakan dirinya. Belakangan Jack baru mengatakan bahwa lelaki yang dia cari pernah makan steak dengan seorang gadis.

mengetahui kekasihnya lebih memilih gadis lain dan meninggalkannya, perempuan itu limbung. dia datang pada J untuk curhat. Melihat satu toples kaca berisi begitu banyak kunci, Liz heran.

kamu menyimpan semua kunci itu. Kenapa tidak membuangnya saja?” tanyanya soal kunci-kunci milik pengunjung yang banyak tertinggal di kedainya.

”Jika aku membuangnya, mungkin saja pintu-pintu itu tidak akan terbuka lagi. Dan bukan hakku untuk menutup pintu itu selamanya.” jawab pemilik kedai.

Sedikit menghibur perempuan yang baru patah hati itu, J bercerita soal blueberry pie–nya.

setelah itu... Nasib menjawab penantian Blueberry Pie dan Sang Kunci yang ditinggalkan lewat scene-scene sederhana namun syarat makna.

***

Yaaah... Memang sebaiknya kita tidak menyimpan barang yang tertinggal terlalu lama, yang mungkin juga sudah dilupakan pemiliknya. Bisa dipastikan barang yang tertinggal dan tidak berusaha dicari kembali oleh pemiliknya, bukanlah barang yang penting lagi. Kalau pun kita tetap menyimpan kunci dan satu saat kita membuka pintunya, belum tentu yang kita temui adalah orang yang kita cari. So, just throw it out!

22 Maret, 2009

I'M NOT LOST


You look at me, i bite my tongue
I don't know why or where you're coming from
But in my head I'm close to you
We're in the rain still searching for the sun

You think that I want to run and hide
I keep it all locked up inside, but I just want you to find me...

I'm not lost, just undiscovered
And when we're alone, we are all the same as each other



05 November, 2008

Belajar, Kita Bisa!

”All the things are possible,” itulah yang dikatakan Presiden terpilih AS, Barrack Obama pada awal pidato kemenangannya di Illionois, Chicago, Selasa (04/11). Amerika yang dikenal sebagai land of diversity telah membuktikan bahwa memang tidak ada yang tidak mungkin di negeri itu.

Pilpres 2008 AS mungkin menjadi pesta politik yang paling menyedot perhatian dunia, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini dikarenakan antara lain, faktor latar belakang demografi para kandidatnya. Dari partai Demokrat terdapat Hillary Clinton yang merupakan kandidat capres perempuan pertama, serta Barrack Obama warga afro-amerika pertama yang berhasil masuk bursa capres. Sedangkan dari Partai Republik, John McCaine merupakan kandidat capres dengan usia tertua.

Diantara ketiga tokoh tersebut, Obama lah yang paling menyita perhatian. Namanya melejit di Indonesia ketika ia terpilih menjadi kandidat capres dari Partai Demokrat, bersaing dengan Hillary Clinton. Mantan senator negara bagian Illinois ini menyedot perhatian media dalam negeri diantaranya karena latar belakangnya yang multikultur, memiliki ayah tiri yang seorang Indonesia, serta pernah melewatkan masa kecilnya di Jakarta selama empat tahun. Faktor proximity inilah yang membuat sosoknya begitu populer di tengah masyarakat kita.

Sebenarnya banyak pelajaran penting yang dapat diambil Indonesia dari Pemilu AS kali ini. Terdapat point-point yang seharusnya bisa lebih menjadi sorotan media. diantaranya adalah semangat sportifitas dan integritas, bukan sekedar romantisme masa kecil Obama yang over exposed!

Dapat dikatakan perilaku para politisi di negeri yang menganut sistem dwipartai itu telah cukup dewasa. Tengok saja persaingan dua kandidat capres Partai Demokrat dalam memenangkan tiket menuju gedung putih, untuk kemudian bersaing dengan calon dari Partai Republik. Perjuangan mereka begitu total sejak awal, namun di akhir proses, kandidat yang tersisih dalam seleksi dapat dengan besar hati menerima kekalahannnya.

Lihat bagaimana sportifitas sang mantan Ibu Negara, Hillary Clinton ketika kalah dalam persaingan capres Demokrat. Hillary yang mendapat dukungan 18 juta suara saat tingkat pendahuluan, harus mengakui keunggulan lawannnya pada hasil akhir penghitungan. Walau kecewa, ia tetap mengajak seluruh pendukungnya untuk bersama memilih Obama saat pilpres melawan partai Republik.

Persaingan tidak menyebabkan partai pecah apalagi bubar, tidak ada cerita tentang kubu yang memisahkan diri dan kemudian membentuk partai baru. Tidak ada perseteruan berkepanjangan di tingkat elit yang berujung pada saling tuntut di meja hijau. Pada level grassroot pun tidak ada bentrok disertai perusakan dan penyerangan pada kubu lawan.

Sportifitas tinggi pun ditunjukan oleh mantan prajurit perang Vietnam, John McCaine saat mengetahui perolehan suaranya jauh dibawah pesaingnya. Dalam pidato kekalahan yang disampaikan di Phoenix, Arizona, McCaine mengucapkan selamat kepada pesaingnya. Meskipun dirinya kalah tetap ada suatu kebanggaan, bahwa di Amerika setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Ia pun mengatakan akan membantu Obama dalam menghadapi tantangan, bekerja sama mengatasi persoalan yang tengah dihadapi bangsanya. Begitulah seharusnya sikap negarawan sejati. Tidak ada kekalahan, yang ada hanyalah kemenangan bersama.

Dari sosok Barrack Obama pun banyak hal yang dapat dipelajari. Bagaimana kegigihan seorang dari kaum minoritas untuk dapat tampil dan ambil bagian dalam proses politik. Sebelum masuk menjadi senator negara bagian, Obama sudah aktif dalam kegiatan advokasi hak-hak dasar kaum minoritas, khususnya kaum buruh, dia juga menaruh perhatian pada soal pendidikan. Hal inilah yang kemudian menjadi bekalnya dalam melangkah menjadi senator negara bagian, senator nasional, hingga maju sebagai kandidat presiden.

Figurnya yang begitu menarik perhatian media, kemudian menjadikan dirinya sebagai selebritis. Namun, dia popoler bukan semata karena seorang kulit hitam yang memiliki karir cemerlang di panggung politik AS. Obama populer karena sosoknya yang damai, dengan semangat keberagaman ia mampu merangkul semua golongan. Lebih dari itu dia telah menunjukan dedikasinya pada perbaikan kualitas hidup masyarakat, serta memiliki kapabilitas sebagai seorang wakil rakyat.

Rakyat AS memang beruntung memiliki para wakil yang tidak sekedar pandai ’menjual diri’, tapi telah menunjukan kontribusi. Tidak mengandalkan jasa masa lalu, tapi kejalasan visi masa kini. Popularitas tidak menentukan kualitas, karena siapapun pun tahu jika ”hidup adalah perbuatan”.

Lalu kini, adakah kita miliki wakil rakyat berkualitas?! Sudahkah para politisi kita memiliki integritas? Siapkah kita besikap sportif? Bisakah kita melewati pilkada yang damai tanpa bentrok? Seperti kata mister Obama, jawabannya adalah ”Yes, We Can!”

Jika mau ”belajar, kita bisa!”

09 Oktober, 2008

Shopping dan keajaiban ikhlas



Pada setiap keinginan dan pilihan yang hadir dalam hidup, pasti tidak akan terlepas dari pengaruh kata hati dan nafsu. Kadang kita tertipu oleh keinginan yang muncul begitu kuat, kemudian kita anggap itu adalah suara hati. Padahal dari kuatnya keinginan tersebut, telah ada nafsu yang mendominasi.

Pernahkah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama? Di mana saat mata kita tertuju padanya, seketika itu juga hati kita bergetar, jiwa kita melonjak. Lalu tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, kita merasa hal itu adalah yang paling tepat untuk kita. Kemudian sering kali rasa itu dilanjutkan dengan munculnya keinginan untuk memiliki.

Mungkin saya termasuk tipe yang biasa mengalaminya. Bagi saya dan perempuan secara umum, perang antara suara hati dan nafsu sering terjadi saat shopping. Karena konon, perempuan adalah kelompok yang lebih sering mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan. Adakah faktor historis, sosiologis, atau bahkan biologis yang mempengaruhi psokologis perempuan ketika harus memilih (baca: barang)?! Saya belum tahu.

Kemarin (04/9), saya hampir membeli lima buah tas sekaligus. Saat itu saya sedang berada di pusat kerajinan handicraft Rajapolah, Tasikmalaya. Banyak barang kerajinan yang unik di sana, terutama tas. Ada lima buah tas yang saya taksir. Model yang unik, warna yang sesuai, serta harga yang relatif terjangkau membuat saya sulit memilih tiga dari lima. Beruntung saya bisa mengendalikan nafsu dan hanya membeli tiga buah tas.

Shopping hanyalah satu contoh sederhana bagaimana kita harus berhadapan dengan suara hati dan nafsu, kemudian mengelolanya. Dari aktifitas belanja, saya bisa belajar untuk mendengar dan memilih dengan jernih antara suara hati dan suara nafsu. Tidak setiap keinginan yang muncul harus direalisasikan saat itu juga. Sering kali saya harus menahan diri karena berbagai faktor.

Satu kali saya jatuh cinta pada baju model tunik. Saya merasa baju itu sangat pas dengan karakter saya. Begitu kuat hasrat saya memilikinya, tapi harga menghalangi. Sebenarnya bisa saja saya membelinya saat itu, namun hati saya mengeluarkan fatwa haram untuk tunik seharga itu. Akhirnya dengan berat hati saya pulang meninggalkannya. Belajar ikhlas, sambil berharap akan ada diskon. Kira-kira hampir sebulan berlalu, kenangan dan harapanku terhadap tunik itu sudah mulai terhapus. Ketika sedang iseng jalan-jalan di Mall yang sama, saya terkejut mendapati tunik itu masih avaliable. Ketika saya hampiri, ternyata semua produk untuk merk dari tunik itu sedang diskon 30%!!!

Cerita lain saat saya bertemu notes unik dengan cover dari lintingan koran di Mirota. ”Ih... lucu banget deh notesnya! Bisa tuk diary tuh...” bisik jeung Napsu.
”Jangan beli barang yang gak penting! Diary lu kan masih ada” ucap suara Hati tegas.
”Ya bener juga sih. Lagi pula gue kesini kan untuk cuci mata doank!” akhirnya saya tidak jadi membeli. Nah... entah berapa minggu setelah itu, saya ada keperluan di Jogja betapa girang hati saya ketika seseorang memberikan 1 notes serupa untuk saya. Padahal saya sudah berencana tuk membelinya sendiri. Sebagai rasa syukur, saya beli 1 notes untuk hadiah seorang teman.

Beberapa waktu lalu saya jatuh cinta lagi. Bukan pada tas, buku, atau baju. Pada sesuatu yang limited edition, unique, complete dan tentu saja diimpikan sejak lama. Namun, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar harga menjadi pertimbangan saya. Lagi-lagi saya harus berhadapan dengan ”take it or leave it!” Walau sudah tahu jawabannya, bukan hal mudah memutuskannya. Hati bilang sih, “leave and see…” Jangan menunggu, karena hanya akan buang waktu. Kadang ikhlas beda tipis dengan lepas. Maka, tinggalkan dan lihat...

Saya jadi teringat pengalaman dengan Baju Tunik itu. Hmmm... kira-kira saya akan dapat diskon atau malah dapat gratisan ya???! Hihihi...


Terinspirasi setelah membaca blog Reza Gunawan.

08 Oktober, 2008

Jejak Petualang




29 September, 2008

Laskar "Tembi"



baru saja berakhir
hujan di sore ini
menyisakan keajaiban
kilauan indahnya pelangi

tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa dibeli

bersamamu kuhabiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semuanya begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya.


(lyric by: Ipang)

21 Agustus, 2008

Place I Can Call Mine




Mbak Prima bilang, "Setiap rang pasti punya tempat di dunia yang super besar ini. Dimana? Ya dicari makanya. Klo nggak dicari ya gak ketemu."

30 Juni, 2008

Sembilan hari kedepan


Mulai besok hingga tanggal 9 Juli gue akan angkat kaki dari Solo untuk ikut acara Indonesian Youth Media Camp 2008 di Tembi House Jogjakarta.

Untuk Pak Redpel yg jengkel sms ak, maaf bgt kmaren gak bisa kasi kabar. Menulis memang bukan pekerjaan mudah untukku! Apalagi jika sedang sembelit otak.

Semoga setelah balik dari acara ini, gue bisa insap & menulis lagi. Amien!

03 Juni, 2008

Lelucon dari calon "World Class University"

Pagi ini saya diberi lelucon oleh seorang Pembantu Dekan 1 dan Panitia Ujian dari sebuah kampus yang mengaku punya cita-cita menjadi “World Class University”...

***

Sambil membawa surat keterangan dokter, saya datang ke kampus dan langsung menuju ruang panitia ujian. Disana saya menghampiri seorang panitia berwajah lugu dengan tampang yang akan membuat siapapun iba. Saya sampaikan bahwa ”teman saya Ninda Jur. Ilmu Komunikasi 2007 tidak bisa mengikuti ujian semester karena dirawat di RS.” Ternyata wajah lugu bukan jaminan seseorang bisa bersikap lebih manis! Informasi yang saya berikan tidak cukup merangsangnya untuk sekedar senyum dan mengecek surat yang saya tunjukan, apalagi bertanya ”sakit apa?”. Tanpa babibu, dia menyuruh saya menghadap PD 1.

Sekitar setengah jam saya menunggu sang PD 1. Saya sampaikan hal yang sama, ”teman saya Ninda Jur. Ilmu Komunikasi 2007 tidak bisa mengikuti ujian semester karena di rawat di RS.” Coba tebak apa jawaban dari sang juragan?!

”Trus saya mesti gimana?!”
Saya agak bingung mendengarnya.
”Begini pak, saya tadi dari ruang panitia ujian ingin menyerahkan surat keterangan sakit. Dan saya suruh langsung menghadap bapak.”
”Lho kenapa saya?!”
”Karena bapak PD 1.”
”Ya. Klo saya terima suratnya,
lalu saya mesti bagaimana?”

%^!?$&^%*&^%u9^*&^uyt%r^$ -=8+&(^_+???????!

”Lha mana saya tau pak??! Bapak kan yang lebih tahu prosedurnya seperti apa.” Saya mulai mikir, saya yang bego atau bapak ini yang terlalu jenius.
”Ini bukan soal prosedur!” katanya angkuh.

”Begini lho pak. Saya hanya ingin mengurus surat untuk teman saya yang SAKIT. Hari ini dan kemungkinan sampai minggu depan dia tidak bisa ikut ujian.”

”Tau dari mana anda, sampai minggu depan?”
”Karena dia kena demam berdarah, pak. Trus saya mesti gimana, pak?”

”Anda semester berapa sih? Jur.apa?” nada dengan nada merendahkan.
”Masak
gak ngerti! Mahasiswa komunikasi kok bicaranya begitu, ” lanjutnya.

”Lho, saya memang gak mengerti prosedur bagaimana mengurus surat keterangan tidak mengikuti ujian pak! Makanya saya menghadap bapak! Trus apa yang mesti saya lakukan?”
”Ya sudah saya terima saja suratnya.”
”Lalu gimana kelanjutannya pak? Gimana dengan absen ujian teman saya?!”
”Ya bukan urusan saya!
Saya taroh saja di meja.”

...... ................. Damn! Sialan! S****! A**!

Saya kembali ke ruang panitia, karena khawatir dengan absen ujian Ninda. Maksudnya untuk menyerahkan surat dokter, sekedar memberi keterangan untuk hari ini bahwa dia gak bisa ikut ujian karena sakit. Saya menghampiri orang yang sama, kemudian...

”Kamu mahasiswa mana sih?! Jur apa? Suruh aja teman kamu datang, urus sendiri!”
”DIA SEDANG DI RAWAT DI RUMAH SAKIT, PAK!!!
Selanjutnya
dengan berat hati gue jawab, ”Saya mahasiswa UNS Jur. Ilmu Komunikasi.”
”Suruh teman kamu urus sendiri. Nanti saat minta ujian susulan, surat itu dibawa!”

Bullshit! Gue yakin, kalo suratnya diurus belakangan akan lebih dipersulit!!! Apa lagi ini ujian akhir semester. Makanya niat gue urus di hari pertama ujian. Tapi itulah jawaban yang gue terima dari si Monster Innocent! Gue juga gak habis pikir dengan arah pembicaraan Si PD 1! Begitu rugikah memberi sedikit info??! Pembantu Dekan kok bicaranya muter2!!!

Ternyata hanya sebatas itu kapasitas seorang pejabat kampus yang ”DENGAN KEUNGGULAN LOKAL, MENUJU PERGURUAN TINGGI BERWAWASAN GLOBAL!”


MIMPI AJA PAK!